Sabtu, 21 Maret 2015

Asal Mula Kanjeng Kyai Plered (Oleh: Prabuningrat)

Kala itu, kejayaan Majapahit pun mulai berangsur redup. Nun … di Katumenggungan Wilwatikta yang tenang dan damai, di pagi nan cerah itu, sang Tumenggung yang dikaruniai sepasang anak yang mulai beranjak dewasa, yakni Raden Sahid dan Dewi Rasa Wulan memanggil keduanya untuk menghadap. Setelah keduanya menghaturkan sembah bakti, sang Tumenggung pun berkata; “Sahid, sekarang engkau sudah dewasa. Mulai sekarang, engkau harus bersiap-siap untuk menggantikan bila aku sudah tak mampu lagi melaksanakannya.” “Sebelumnya, aku dan ibumu berharap agar engkau segera menikah. Katakanlah, gadis mana yang selama ini telah menjadi tambatan hatimu. Nanti aku yang akan melamarkan untukmu,” imbuhnya. Raden Sahid yang duduk bersila dengan takzim dan kepala menunduk sebagai tanda hormat kepada orang tua, hanya diam membisu. Hatinya benar-benar galau. Betapa tidak, sejatinya, di dalam hati ia menolak untuk segera menikah. Tapi apa daya, jika menolak, ia takut membuat kedua orang tuanya kecewa. Padahal dalam hati yang sangat dalam, beliau menggerutu, belum siap memikirkan tentang arti sebuah mahligai rumah tangga. Di tengah-tengah suasana yang mencekam itu, mendadak terdengar suara Tumenggung Wilwatikta memecah kesunyian; “Mengapa engkau diam Sahid?” “Apakah engkau menolak permintaanku?” Sambungnya cepat. “Ampun … ayahanda,” sahtu Raden Sahid dengan terbata-bata, “tak ada maksud hamba untuk menolaknya.” “Tetapi mengapa engkau diam dan tidak segera menjawab,” potong sang ayah dengan cepat. “Ampun … ayahanda,” jawab Raden sahid dengan santun, “sampai saat ini, hamba masih menimbang-nimbang, wanita mana yang tepat untuk menjadi menantu ayahanda.” Tumenggung Wilwatikta pun menarik napas lega, “Baiklah kalau begitu. Pertimbangkan dengan masak-masak, dan hati-hati dalam menentukan jodohmu.” Karena dianggap cukup, maka, Raden Sahid pun diperkenankan untuk undur diri. Dan kepada Dewi Rasa Wulan, sang ayah hanya berpesan agar dirinya bersiap-siap untuk menerima pinangan dari pemuda yang sudah ditetapkan kedua orang tuanya. Tanpa berani membantah, Rasa Wulan pun hanya diam … lalu, ia pun undur diri dari hadapan ayahandanya. Tidak seperti biasanya, keceriaan yang biasa diperlihatkan keduanya di kadipaten mendadak hilang. Hingga malam menjelang, Raden Sahid masih disungkupi kegelisahan. Bahkan, matanya pun tak bisa dipejamkan walau malam terus merangkak. Hatinya teramat sedih … “Untuk menghindar dari paksaan ayah, kiranya aku harus pergi dari sini,” demikian bisik hatinya. Dan benar, seiring dengan malam yang terus merangkak dan seisi katumenggungan sedang terbuai dalam mimpi indahnya masing-masing, diam-diam Raden Sahid pun ke luar dari kamarnya dan pergi …. Paginya, tatkala Dewi Rasa Wulan mengetahui bahwa kakaknya tak ada di kamarnya, sontak, hatinya pun khawatir. Dengan harap-harap cemas ia pun mencari sang kakak di berbagai penjuru katumenggungan. Tapi apa daya, sang kakak seolah lenyap bak ditelan bumi. Dewi Rasa Wulan pun yakin, sang kakak telah pergi meninggalkan katumenggungan tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. “Mengapa Kangmas Sahid tidak mengajakku,” bisik hati Rasa Wulan, “padahal aku juga bermaksud pergi agar terhindar dari paksaan ayah.” Dengan langkah gontai, Dewi Rasa Wulan pun masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian dan langsung menyusul kakaknya. Waktu terus berlalu. Malamnya, barulah seisi katumenggungan heboh. Mereka baru sadar jika Raden Sahid dan Rasa Wulan telah pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua anaknya pergi, Tumenggung Wilatikta pun terkejut. Dengan cepat ia memerintahkan seluruh telik sandi katumenggungan untuk menelisik keberadaan kedua anaknya itu. Tapi apa daya, keduanya seolah lenyap ditelan bumi. Hari bergangti minggu dan minggu berganti bulan bahkan bulan bergantiu tahun, tapi, keberadaan keduanya tetap saja tidak terendus. Berbilang waktu, dalam pengembaraannya, Raden Sahid mengalami pahit dan getirnya penderitaan serta menghadapi berbagai macam cobaan hingga di kemudian hari ia dikenal sebagai sosok waliyullah yang sangat masyhur, Khanjeng Sunan Kalijaga — lewat bimbingan seorang Waliyulloh A’dzom Sunan Bonang, yang diteruskan kepada Sunan Gunung Jati, sampai pada akhirnya mendapat derajat kewalian secara sempurna lewat talqin Nabiyulloh Hidir AS, hingga akhirnya beliau diambil mantu dan dijadikan tangan kanan paling setia oleh Sunan Gunung Jati Cirebon. Tak jauh berbeda dengan sang kakak, di dalam pengembaraannya, setelah berbilang tahun tidak juga berhasil menemukan Raden Sahid, akhirnya, Dewi Rasa Wulan pun bertapa ngidang (bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasuk memakan makanan yang biasa dimakan oleh kijang-Jw) di tengah hutan Glagahwangi (perbatasan Pasundan, Jawa Barat). Di dalam hutan nan lebat dan angker itu terdapat sebuah danau bernama Sendhang Beji, yang ditepiannya tumbuh dengan subur sebatang pohon besar yang batangnya menjorok dan menaungi permukaannya. Dan tak ada yang menyangka jika pada salah satu cabangnya yang menjorok ke atas permukaan Sendhang Beji itu terdapat seseorang yang sedang bertapa ngalong (bertapa seperti kalong, bergantungan pada cabang pohon-Jw). Ya … sosok linuwih itu tak lain adalah Syekh Maulana Mahgribi. Waktu terus berlalu. Dan pada suatu nan terik, Rasa Wulan pun mendatangi Sendhang Beji. Ia berniat ingin mandi, untuk menyegarkan badannya. Ia sama sekali tak tahu jika di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa — dan tanpa malu-malu Rasa Wulan pun membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, dengan perlahan-lahan ia berjalan menghampiri danau dan mandi di Sendhang Beji. Kesejukan air danau membuat tubuhnya jadi terasa sangat nyaman. Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas danau memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan dan kesintalan tubuhnya, sontak, birahi Syekh Maulana Mahgribi pun bangkit hingga meneteskan bibit hidup (sperma-Jw) dan jatuh tepat diatas tempat Rasa Wulan mandi. Karena peristiwa itu, maka, Rasa Wulan pun hamil. Akhirnya, Rasa Wulan pun tahu jika laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya. “Mengapa engkau tega berbuat demikian?” Protes Rasa Wulan sambil menunjuk sengit ke arah Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa engkau menghamiliki?” Syekh Maulana Mahgribi hanya diam. Ia seakan tidak mendengar apa-apa. “Karena telah berbuat, maka, engkau harus bertanggung jawab!” Sergah Rasa Wulan semakin sengit. “Mengapa engkau menuduhku?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi dengan sabar. “Lihat! Aku hamil,” sahut Rasa Wulan. “Engkau yakin jika aku yang menghamilimu?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi meminta ketegasan. “Ya. Aku yakin!” Sahut Rasa Wulan tegas. “Karena di tempat ini tidak ada laki-laki lain, maka, engkaulah yang kutuduh menghamiliku,” imbuhnya dengan berapi-api. Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, Syekh Maulana Mahgribi pun langsung mencabut kemaluannya — kemudian menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa ia tidak memiliki kemaluan. Syekh Maulana Mahgribi pun berujar, “Lihat, aku bukan laki-laki. Jadi mana mungkin aku menghamilimu.” “Bagaimana pun juga aku tetap menuduhmu yang menghamiliku” kata Rasa Wulan, “karena itu, engkau harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang tengah kukandung ini.” “Aku yang harus bertanggung jawab?” Tanya Syekh Maulana Mahgribi. “Ya. Engkau yang harus bertanggung jawab,” sahut Rasa Wulan, “mengasuh dan memeliharanya kelak setelah lahir.” Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat mengelak. Dan pada waktunya, setelah anak yang dikandung oleh Rasa Wulan itu lahir, maka, si jabang bayi pun yang diberi nama Kidang Telangkas pun diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Kelak dikemudian hari, secara turun temurun, keturunan Kidang Telangkas menjadi raja di tanah Jawa. Kembali ke perdebatan sengit antara Dewi Rasa Wulan dengan Syekh Maulana Maghribi, saat itu, ternyata kemaluannya yang dicabut berubah wujud menjadi sebilah mata tombak — yang akhirnya menjadi “sipat kandel” (senjata andalan) dari raja-raja Jawa. Dan tombak itu dinamakan Khanjeng Kyai Plered. Saat ini Khanjeng Kyai Plered itu merupakan salah satu dari senjata pusaka Keraton Yogyakarta. Namun dalam perdebatan lain, tombak Khanjeng Plered, yang asli telah raib dan dimiliki oleh seorang Waliyulloh Kamil, yang turun temurun selalu dijaga dan dirawat secara baik, sebab hal semacam ini sudah menjadi ilmu Waris bagi ahli generasi sesama Waliyulloh “Di mana hak yang terlahir dari seorang waliyulloh, maka, akan kembali kepada hak sederajat lainnya” Juga seperti maqolahnya Rosululloh SAW: “Sesungguhnya hak warisku akan terpenuhi oleh keturunanku kelak, dan tiada kuberikan pengganti kecuali yang memahamiku, maka sambutlah pemberianku hingga kamu menggantikanku” “Setiap yang aku miliki (sisa peninggalan hidup) adalah bagian wujud kasar yang tiada berarti dan hakikat sebenarnya adalah kembali ke yang punya, maka peliharalah apa yang menjadi izin langsungku hingga kau menikmati dengan apa yang sesungguhnya kau pahami ” sumber :

Ilmu Pemikat, Semakin Sayang Semakin Dekat (oleh: Saipudin)

Ilmu Hikmah itu bersumber dari orang-orang yang mengkaji, mendalami dan mencari rahasia ayat ayat suci Al Qur’an. Inilah salah satu ayat sakti yang menyimpan karomah pengasihan dan pemikat. ilmu pemikat ilustrasi Salah satu ilmu pengasih dengan corak Islami adalah apa yang disebut dengan nama Ayat Pemikat. Ilmu ini termasuk ke dalam golongan ilmu pengasih tingkat tinggi yang daya spiritualnya tidak diragukan lagi. Apa yang disebut sebagai Ayat Pemikat adalah salah satu ayat dalam Al Qur’an yang termaktub dalam surat Taha ayat 39.Ada suatu sejarah yang melatarbelakangi mengapa ayat 39 dalam surat Taha tersebut oleh Ahli Hikmah dijadikan sebagai amalan atau mantera ilmu pengasih. Alkisah, pada suatu hari seorang ahli nujum datang menghadap Fir’aun untuk menafsirkan makna mimpi sang raja. Menurut perhitungan si ahli nujum, tak lama lagi bakal lahir seorang bayi dari bangsa Israil yang kelak akan menjadi musuh dan menjatuhkan kekuasaannya. Fir’aun berang mendengar arti tafsir mimpinya itu. Dia pun memberikan perintah agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan bangsa Israil. Dan berita ini dengan cepat menyebar di kalangan rakyat Mesir. Pasangan suami isteri Imran dan Yukabad begitu cemas setelah mendengar berita tersebut. Terlebih lagi setelah Yukabad, ibunda Nabi Musa, mengetahui bahwa anaknya yang lahir adalah laki-laki. Pasangan suami isteri ini pun sangat panik. Jika tak segera disembunyikan anak itu tentulah akan dibunuh oleh kaki tangan Fir’aun. Yukabad sangat sayang pada bayinya yang molek, sehat dan lucu itu. Meski Imran suaminya menyarankan agar bayi itu dipasrahkan saja kepada Fir’aun daripada mereka celaka, namun Yukabad tak menghendakinya. Dia tak rela bayinya sampai dibunuh. Tapi masalahnya, untuk menyembunyikannya terus menerus juga tak mungkin. Di tengah kegalauan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan ilham kepada Yukabad untuk membuat peti tahan air, lalu menghanyutkan Musa di dalam peti itu di sungai Nil. Kakak perempuan Musa diperintahkan mengikuti kemana peti itu hanyut dan oleh siapakah bayi Musa nanti ditemukan. Atas kehendak Allah, ternyata peti itu ditemukan oleh putri kesayangan Fir’aun yang kala itu sedang mandi di sungai Nil. Peti pun dibuka. Setelah tahu isinya bayi, sang putri memerintahkan dayang-dayangnya untuk membawa bayi mungil nan lucu dan tampan itu ke hadapan ibunda Ratu, yaitu istri Fir’aun yang bernama Asiah. Istri Fir’aun sangat senang melihat bayi itu. Dia pun ingin mengangkatnya sebagai anak. Maka, diutarakannyalah niat ini kepada Fir’aun. Mula-mula Fir’aun bersikeras menolak, namun atas bujukan isteri yang sangat disayanginya, akhirnya dia pun terpaksa setuju. Allah telah memberikan Musa kepada musuhnya. Subhanallah! Dan Musa tidak dibunuhnya, malah dipeliharanya dengan penuh cinta kasih hingga Musa kecil tumbuh menjadi besar dan dewasa. Sebelum Musa hidup dan tumbuh kembang di istana Fir’aun, ternyata Allah telah melimpahkan terlebih dahulu kepada Musa kecil dengan “kasih sayang”. Itulah yang membuat Musa begitu dikasihi oleh Fir’aun. Begitu melihat Musa muncul perasaan welas asih. Nah, inilah yang kemudian oleh orang sekarang disebut sebagai ilmu pengasihan. Rahasianya terletak pada potongan ayat yang berbunyi: “WA ALQOITU ‘ALAIKA MAHABBATAN MINNII WALITUSHNA’A ‘ALA ‘AINI” Artinya: Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu (QS. Taha 20 : 39). Menurut Ulama Hikmah, jika ayat tersebut diamalkan dengan istiqomah, seseorang akan mempunyai daya tarik dan daya pikat luar biasa di dalam dirinya. Agar Pembaca Misteri tidak penasaran, Ustad Saipudin akan beberkan urutan tata cara ritualnya. Berikut uraian lengkapnya: • Puasa 3 hari pada saat purnama, yaitu tgl 13, 14 dan 15 menurut kalender Hijriyah. Niatnya; nawaitu souma godin li qodo’i hajatii sunnatan Lillahi Ta’ala. • Selama puasa, ayat di atas dibaca 40 kali setiap sesudah shalat fardhu. Bila puasa usai, cukup dirapal 7 kali saja. • Selama puasa, malamnya dirikan shalat Hajat 2 rakaat dan amalkan ayat tersebut sebanyak 313 kali. Setelah menjalankan ritual tersebut, Insya Allah daya karomah ayat sakti tersebut sudah menyatu dengan diri Anda. Ayat Pemikat ini tidak hanya berfungsi sebagai pengasihan untuk memikat lawan jenis. Karomahnya juga ampuh untuk melancarkan perdagangan, menagih utang, bisnis, juga agar disayang suami/isteri, termasuk dipercaya dan disayangi atasan. Power gaib ilmu ini juga bisa ditingkatkan sampai level setinggi mungkin. Caranya, dengan tekun menjalankan shalat 5 waktu, tidak boleh ada yang tinggal, kecuali bagi wanita yang sedang menstruasi. Di samping itu, siapapun yang berniat mengamalkan ayat ini harus menjauhi apa yang dilarang oleh Allah. Kalau kita lulus menghadapi semua ujian tersebut, maka sudah pasti akan naik tingkatannya. Nah, salah satu ujian yang paling nyata biasanya Anda yang pria akan dihadapkan dengan wanita yang cantik dan dia memberikan banyak peluang kepada Anda. Bila Anda lulus dengan tidak melakukan perzinahan, maka power ilmu ini akan semakin bertambah kuat dan dahsyat. Sumber: www.facebook.com/saipudinhikmah

Kutukan Siluman Ular Hutan Jati Kramangan


Kisah ini adalah pengalaman gaib nyata dari Sarwanti. Semasa di SMA dia tersesat di hutan Jati Kalibalang. Sembilan temannya mati karena makan daging ular siluman. Dia sendiri selamat, namun harus menjalani kutukan… SARWANTI adalah gadis kampung di desa kecil di wilayah Palas, Lampung Selatan. Tinggi gadis berkulit kuning langsat ini 160 cm, berwajah manis, dengan rambut ikal sebatas bahu. Sarwanti merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Marsono, ayah Sarwanti, hanyalah seorang petani kecil, sedangkan Sudarmi, ibunya, hanyalah seorang pedagang pakaian bekas di pasar Warangan, pasar paling besar di daerah Palas. Jangankan memiliki mobil, rumah yang mereka tempati saja marupakan warisan dari sang nenek. Jangankan makan di restoran, makan nasi lauk ikan asin saja sudah senang sekali. Kendati keadaan mereka pas-pasan, hidup Sarwanti bersama ke-2 orang tuanya dan saudaranya sangat tentram dan bahagia. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan, Marsono dan Sudarmi lebih mengutamakan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya. Mereka semua mendapatkan beasiswa. Kejadian yang berhubungan dengan dunia gaib terjadi pada diri Sarwanti saat ia duduk di bangku SMA. Kala itu ada kegiatan RAIMUKA yang diadakan sekolah tingkat SMA se-Kabupaten Lampung Selatan. RAIMUKA merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang berhubungan dengan pramuka. Ada salah satu wakil dari sekolah Sarwanti yang tidak ikut, yaitu Nurhayati. Entah mengapa Sarwanti yang ditunjuk menggantikannya. Sebenarnya Sarwanti tidak terlalu hobi dalam pramuka, tapi karena ditunjuk sebagai pengganti mewakili sekolah, apa boleh buat ia lakukan juga. Dalam acara RAIMUKA itu ada kegiatan Napak Tilas masuk hutan Jati Kramangan, Rejomarbun. Mungkin kurang konsentrasi saat dijelaskan kakak Pembina atau memang belum berpengalaman dalam jelajah hutan, Sarwanti bersama temannya kehilangan jejak. Team mereka terdiri dari 3 orang termasuk Sarwanti wakil dari SMA-nya, dan 7 orang lainnya dari SMA yang berbeda. Walaupun mereka beda sekolah yang namanya tersesat dalam hutan selama 10 hari, mereka menjadi akrab dan saling menolong, kerjasama dan saling melindungi. Waktu itu Sarwanti masih duduk di bangku kelas 1. Anggota Team Napak Tilas di hutan Jati Kramangan, Rejomarbun, yang terdiri dari 10 orang itu campur antara kelas 1, 2 dan 3. Sudah lebih dari delapan hari mereka tersesat di dalam hutan. Mereka beristirahat di dekat danau yang airnya sangat tenang dan jernih. Sementara perbekalan yang mereka bawa sudah habis dan beberapa anak kelihatan sangat lelah. Ketua team yang bernama Eko memiliki inisiatif mencari ikan di danau sekitar untuk mengisi perut agar memiliki stamina guna melanjutkan perjalanan pulang. Sarwanti terduduk lemas di dekat pohon jati sambil melamun memandang jauh ke tengah hutan. “Wanti, sudah sana kamu kumpul sama teman-teman yang lain,” ucap Eko pada Sarwanti. “Kamu nggak usah cemas begitu. Kita pasti bisa keluar dari hutan jati ini. Oke!” tambahnya. “Asalkan kita kompak dan tenang, pasti bisa berpikir jernih sehingga dapat menemukan jalan keluar,” bujuk Eko pula pada anggota team lainnya. Sarwanti memandangi wajah Eko dalam-dalam. Pemuda ganteng yang duduk dikelas 3 SMA itu mulai pasrah pada keadaan yang akan terjadi selanjutnya. Dengan langkah gontai, Sarwanti mendekati teman-temannya. Beberapa menit kemudian ia menghentikan langkah kakinya dan ia merebahkan tubuhnya di atas batu panjang persegi seukuran papan tulis di sekolah. Tak berapa lama Eko dan Radit kembali. Mereka datang menawarkan daging landak yang sudah matang pada mereka. Eko dan Radit mengatakan bahwa mereka tak mendapatkan seekor ikan pun di Danau Jati. Terpaksa mereka mencari hewan lain untuk mengisi perut. Semua teman-teman Sarwanti makan daging landak tersebut, sedangkan Sarwanti tampak ogah-ogahan, karena seumur hidupnya baru kali itu ia mendapati daging binatang yang memiliki bulu-bulu yang runcing, yang merupakan juga sebagai senjata pelindung dari binatang tersebut. Lagi pula bukan Sarwanti tidak mau, tapi di dalam keluarganya ada tradisi untuk tidak mudah memakan makanan yang diberikan oleh orang yang belum lama dikenal. Meskipun Eko baik, tapi Sarwanti belum terlalu mengenalnya karena beda sekolahan dengannya. Kalaupun Sarwanti mengenalnya mungkin hanya di RAIMUKA itu. Sampai esoknya Sarwanti juga tak makan, kecuali sekedar minum beberapa teguk air air danau yang lebih dulu direbus. “Wanti, kamu jangan bersikap seperti itu. Kenapa kamu nggak mau makan daging landak bakar ini? Dagingnya enak kok. Lagipula kalau kamu nggak makan, nanti kamu bisa sakit!” ucap Ferdian dari SMA 1 pada Sarwanti. “Maafkan aku, Kak. Tapi aku belum yakin daging binatang apa yang kalian makan itu!” jawab Sarwanti sekenanya. Ajeng yang satu sekolahan dengan Sarwanti mendekatinya. Mungkin dia tak enak dengan teman-teman yang lainnya, apalagi yang beda sekolahan dengan mereka. Ajeng lalu membujuk Sarwanti agar mau makan daging landak bakar itu. Namun Sarwanti tetap pada pendiriannya. Tidak mau menyentuh makanan itu. Singkat cerita, keesokkan harinya memasuki hari ke-10 mereka tersesat dalam hutan Jati Kramangan, tiba-tiba kompas hidup sehingga mereka dapat menemukan jalan keluar. Kurang lebih satu jam perjalanan mendadak Eko menghentikan langkah mereka. “Teman-teman berhenti dulu!” katanya. “Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Eko lagi secara mendadak. “Ada apa lagi, Kak. Apa kompasnya mati lagi?” tanya Ajeng sedikit cemas. “Bukan, bukan itu!” jawab Eko agak ragu. “Begini, sebenarnya yang kalian makan kemarin itu bukanlah daging landak, tapi daging ular cobra yang ada di dekat danau. Aku terpaksa berbohong karena aku pikir kalau aku jujur kalian nggak bakalan mau makan daging itu, sementara selaku ketua team di sini, aku sangat mengkhawatirkan kalian semua yang sudah hampir tiga hari sama sekali tidak mengisi perut,” kata Eko menjelaskan pada Sarwanti dan teman-teman. Sesungguhnya mereka semua mau marah, namun setelah mereka pikir lebih dalam lagi ya sudahlah, semua sudah terjadi tak masalah dengan daging ular tersebut. Lagian, menurut teman-teman Sarwanti, rasanya enak juga. Di berbagai kawasan di Lampung ada tongseng ular cobra dijual bebas, toh juga tidak apa-apa. Sebulan kemudian setelah peristiwa itu terjadi hal-hal aneh pada teman-teman Sarwanti, yang satu team masuk hutan Jati Kramangan. Ajeng meninggal dengan suhu tubuh naik drastis, sering mengigau di waktu malam. Demikian juga dengan Eko, Radit dan Ferdian, sementara yang lainnya tak jauh berbeda keadaannya. Satu persatu dari mereka mati dengan kondisi tubuh yang amat mengerikan. Ada yang kulitnya bersisik selama enm hari, lalu mengalami kejang-kejang baru keesokan harinya meninggal secara mengenaskan. Ada juga yang berteriak-teriak seperti orang kepanasan. Pokonya bertingkah yang aneh-aneh. Setelah ke-9 anak meninggal, malam harinya Sarwanti mimpi didatangi ular besar hitam keemasan yang tiba-tiba saja berubah wujud menjadi laki-laki yang sangat tampan. “Teman-temanmu harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka yang telah membunuh, menguliti, membakar, lalu memakan daging istriku, aarrrgghhh…” kata siluman ular, membuat tubuh Sarwanti menggigil hebat. “Kamu tidak kubunuh, tapi aku mengutukmu selama 10 tahun. Dan pada malam-malam tertentu kamu harus mau menggantikan tugas istriku selama sepuluh tahun tersebut, ssssssshhhttttttt…..” tambahnya dengan mendesis. Rupanya lelaki itu adalah suami dari Siluman Ular hutan Jati Kramangan. Sarwanti tertegun, diam dan lemas. Dan, mimpi itu sungguh menjadi kenyataan. Selama 10 tahun, disetiap tahunnya, persisnya selama 10 hari di bulan yang sama dengan bulan ketika Sarwanti dan teman-temannya tersesat di hutan Jati Kramangan, maka kulit gadis ayu tersebut mendadak bersisik seperti kulit ular. Kadang-kadang Sarwanti juga mendesis-desis seperti seekor ular. Jadi, kurang 10 hari pasti Sarwanti mengurung diri di dalam rumahnya. Kalau pun terpaksa keluar hanya bisa pada malam hari saja, siangnya Sarwanti selalu mengompres tubuhnya dengan bongkahan es batu, karena suhu tubuh yang berubah sangat panas. Tak diduga sebelumnya, perubahan pada kulit tubuh Sarwanti pada bulan-bulan tertentu di setiap tahunnya ternyata malah malah membawa hoki bagi diri Sarwanti, terutama dalam hal keuangan. Setamat SMA sambil menjalani kuliah Sarwanti diterima bekerja di sebuah lembaga bahasa asing yang ternama di Bandar Lampung. Waktu senggang bisa ia gunakan untuk berbisnis kosmetika juga mengkriditkan pakaian untuk teman-teman sekampus ataupun ibu-ibu dan remaja puteri di lingkungannya. Sepertinya bisnis apapun yang ia lakukan berjalan mulus dengan kemajuan yang cukup pesat. Setamat dari STKIP Sarwanti bersama Junia, temannya, mendirikan sebuah lembaga Bahasa Inggris, di mana Sarwanti menjabat sebagai direkturnya. Sarwanti juga mengadakan kerjasama dengan beberapa PJTKI dalam memberikan les bahasa Inggris. Lambat laun usaha Sarwanti berkembang kian pesat, bahkan telah mampu membuka cabang di luar kota. Dalam jangka waktu sekitar 4 tahun Sarwanti sudah mampu memiliki rumah sendiri, mobil dan juga perabot rumah yang semuanya serba lux. Di usia 30 tahun, Sarwanti sudah memiliki segalanya dan dipandang sebagai gadis kaya untuk ukuran seorang gadis di desanya. Dan tak terasa, rupanya 10 tahun Sarwanti telah menjadi isteri (gaib) siluman ular hutan Jati Kramangan. Cuma yang menjadi problem bagi diri Sarwanti, jika ada lelaki yang naksir dan hendak menikahinya atau menjadikan Sarwanti isterinya, maka lelaki itu selalu mati sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Terhitung sudah ada lima orang lelaki semenjak tamat SMA, kuliah hingga memiliki usaha sendiri. Rasanya Sarwanti sudah lelah untuk berkeinginan menikah. Awal tahun 2013 yang lalu kutukan itu telah selesai ia jalani. Kulit Sarwanti tidak lagi bersisik dan gadis yang memiliki keindahan ragawi nan memikat itu bisa leluasa keluar pada siang hari tanpa takut kulitnya terasa panas hendak melepuh seperti sebelumnya. Bukan itu saja, Sarwanti juga tidak akan lagi mendesis-desis seperti layaknya seekor ular. Sarwanti menjadi yakin bahwa kutukan itu telah berakhir dan benar-benar hanya 10 tahun yang harus ia jalani sesuai ucapan siluman ular hutan Jati Kramangan itu. Akhir tahun 2013 yang silam Sarwati telah menjalin hubungan serius dengan Robert McCarty, seorang pengusaha garmen asal Jerman yang telah dua tahun tinggal di Bali. Dia sangat mengagumi keindahan Indonesia, terutama Bali. Perkenalan dengan lelaki handsome asal Jerman itu terjadi karena Sarwanti sering ke Bali dalam rangka ujian Practice Conversation untuk anak-anak diri Sarwanti. Sarwanti selalu berdoa, kalau memang lelaki itu adalah jodohnya, Tuhan pasti akan menyatukan cinta mereka. Tapi jika lelaki bule itu akan bernasib malang, yaitu meninggal seperti lima orang laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya, mungkin ini adalah bagian takdir yang harus Sarwanti jalani. Namun, gadis cantik ini berusaha yakin bahwa kini ia sudah terbebas dari kutukan siluman ular hutan Jati Kramangan tersebut. Kini semuanya ia pasrahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. (Demi menjaga nama baik, semua nama pelaku dalam kisah diatas telah disamarkan, kecuali nama tempat. Abdul Wahab mengirimkan tulisan ini hanya kepada Majalah Misteri) Kisah ini adalah pengalaman gaib nyata dari Sarwanti. Semasa di SMA dia tersesat di hutan Jati Kalibalang. Sembilan temannya mati karena makan daging ular siluman. Dia sendiri selamat, namun harus menjalani kutukan… SARWANTI adalah gadis kampung di desa kecil di wilayah Palas, Lampung Selatan. Tinggi gadis berkulit kuning langsat ini 160 cm, berwajah manis, dengan rambut ikal sebatas bahu. Sarwanti merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Marsono, ayah Sarwanti, hanyalah seorang petani kecil, sedangkan Sudarmi, ibunya, hanyalah seorang pedagang pakaian bekas di pasar Warangan, pasar paling besar di daerah Palas. Jangankan memiliki mobil, rumah yang mereka tempati saja marupakan warisan dari sang nenek. Jangankan makan di restoran, makan nasi lauk ikan asin saja sudah senang sekali. Kendati keadaan mereka pas-pasan, hidup Sarwanti bersama ke-2 orang tuanya dan saudaranya sangat tentram dan bahagia. Walaupun mereka hidup dalam kemiskinan, Marsono dan Sudarmi lebih mengutamakan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya. Mereka semua mendapatkan beasiswa. Kejadian yang berhubungan dengan dunia gaib terjadi pada diri Sarwanti saat ia duduk di bangku SMA. Kala itu ada kegiatan RAIMUKA yang diadakan sekolah tingkat SMA se-Kabupaten Lampung Selatan. RAIMUKA merupakan salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang berhubungan dengan pramuka. Ada salah satu wakil dari sekolah Sarwanti yang tidak ikut, yaitu Nurhayati. Entah mengapa Sarwanti yang ditunjuk menggantikannya. Sebenarnya Sarwanti tidak terlalu hobi dalam pramuka, tapi karena ditunjuk sebagai pengganti mewakili sekolah, apa boleh buat ia lakukan juga. Dalam acara RAIMUKA itu ada kegiatan Napak Tilas masuk hutan Jati Kramangan, Rejomarbun. Mungkin kurang konsentrasi saat dijelaskan kakak Pembina atau memang belum berpengalaman dalam jelajah hutan, Sarwanti bersama temannya kehilangan jejak. Team mereka terdiri dari 3 orang termasuk Sarwanti wakil dari SMA-nya, dan 7 orang lainnya dari SMA yang berbeda. Walaupun mereka beda sekolah yang namanya tersesat dalam hutan selama 10 hari, mereka menjadi akrab dan saling menolong, kerjasama dan saling melindungi. Waktu itu Sarwanti masih duduk di bangku kelas 1. Anggota Team Napak Tilas di hutan Jati Kramangan, Rejomarbun, yang terdiri dari 10 orang itu campur antara kelas 1, 2 dan 3. Sudah lebih dari delapan hari mereka tersesat di dalam hutan. Mereka beristirahat di dekat danau yang airnya sangat tenang dan jernih. Sementara perbekalan yang mereka bawa sudah habis dan beberapa anak kelihatan sangat lelah. Ketua team yang bernama Eko memiliki inisiatif mencari ikan di danau sekitar untuk mengisi perut agar memiliki stamina guna melanjutkan perjalanan pulang. Sarwanti terduduk lemas di dekat pohon jati sambil melamun memandang jauh ke tengah hutan. “Wanti, sudah sana kamu kumpul sama teman-teman yang lain,” ucap Eko pada Sarwanti. “Kamu nggak usah cemas begitu. Kita pasti bisa keluar dari hutan jati ini. Oke!” tambahnya. “Asalkan kita kompak dan tenang, pasti bisa berpikir jernih sehingga dapat menemukan jalan keluar,” bujuk Eko pula pada anggota team lainnya. Sarwanti memandangi wajah Eko dalam-dalam. Pemuda ganteng yang duduk dikelas 3 SMA itu mulai pasrah pada keadaan yang akan terjadi selanjutnya. Dengan langkah gontai, Sarwanti mendekati teman-temannya. Beberapa menit kemudian ia menghentikan langkah kakinya dan ia merebahkan tubuhnya di atas batu panjang persegi seukuran papan tulis di sekolah. Tak berapa lama Eko dan Radit kembali. Mereka datang menawarkan daging landak yang sudah matang pada mereka. Eko dan Radit mengatakan bahwa mereka tak mendapatkan seekor ikan pun di Danau Jati. Terpaksa mereka mencari hewan lain untuk mengisi perut. Semua teman-teman Sarwanti makan daging landak tersebut, sedangkan Sarwanti tampak ogah-ogahan, karena seumur hidupnya baru kali itu ia mendapati daging binatang yang memiliki bulu-bulu yang runcing, yang merupakan juga sebagai senjata pelindung dari binatang tersebut. Lagi pula bukan Sarwanti tidak mau, tapi di dalam keluarganya ada tradisi untuk tidak mudah memakan makanan yang diberikan oleh orang yang belum lama dikenal. Meskipun Eko baik, tapi Sarwanti belum terlalu mengenalnya karena beda sekolahan dengannya. Kalaupun Sarwanti mengenalnya mungkin hanya di RAIMUKA itu. Sampai esoknya Sarwanti juga tak makan, kecuali sekedar minum beberapa teguk air air danau yang lebih dulu direbus. “Wanti, kamu jangan bersikap seperti itu. Kenapa kamu nggak mau makan daging landak bakar ini? Dagingnya enak kok. Lagipula kalau kamu nggak makan, nanti kamu bisa sakit!” ucap Ferdian dari SMA 1 pada Sarwanti. “Maafkan aku, Kak. Tapi aku belum yakin daging binatang apa yang kalian makan itu!” jawab Sarwanti sekenanya. Ajeng yang satu sekolahan dengan Sarwanti mendekatinya. Mungkin dia tak enak dengan teman-teman yang lainnya, apalagi yang beda sekolahan dengan mereka. Ajeng lalu membujuk Sarwanti agar mau makan daging landak bakar itu. Namun Sarwanti tetap pada pendiriannya. Tidak mau menyentuh makanan itu. Singkat cerita, keesokkan harinya memasuki hari ke-10 mereka tersesat dalam hutan Jati Kramangan, tiba-tiba kompas hidup sehingga mereka dapat menemukan jalan keluar. Kurang lebih satu jam perjalanan mendadak Eko menghentikan langkah mereka. “Teman-teman berhenti dulu!” katanya. “Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Eko lagi secara mendadak. “Ada apa lagi, Kak. Apa kompasnya mati lagi?” tanya Ajeng sedikit cemas. “Bukan, bukan itu!” jawab Eko agak ragu. “Begini, sebenarnya yang kalian makan kemarin itu bukanlah daging landak, tapi daging ular cobra yang ada di dekat danau. Aku terpaksa berbohong karena aku pikir kalau aku jujur kalian nggak bakalan mau makan daging itu, sementara selaku ketua team di sini, aku sangat mengkhawatirkan kalian semua yang sudah hampir tiga hari sama sekali tidak mengisi perut,” kata Eko menjelaskan pada Sarwanti dan teman-teman. Sesungguhnya mereka semua mau marah, namun setelah mereka pikir lebih dalam lagi ya sudahlah, semua sudah terjadi tak masalah dengan daging ular tersebut. Lagian, menurut teman-teman Sarwanti, rasanya enak juga. Di berbagai kawasan di Lampung ada tongseng ular cobra dijual bebas, toh juga tidak apa-apa. Sebulan kemudian setelah peristiwa itu terjadi hal-hal aneh pada teman-teman Sarwanti, yang satu team masuk hutan Jati Kramangan. Ajeng meninggal dengan suhu tubuh naik drastis, sering mengigau di waktu malam. Demikian juga dengan Eko, Radit dan Ferdian, sementara yang lainnya tak jauh berbeda keadaannya. Satu persatu dari mereka mati dengan kondisi tubuh yang amat mengerikan. Ada yang kulitnya bersisik selama enm hari, lalu mengalami kejang-kejang baru keesokan harinya meninggal secara mengenaskan. Ada juga yang berteriak-teriak seperti orang kepanasan. Pokonya bertingkah yang aneh-aneh. Setelah ke-9 anak meninggal, malam harinya Sarwanti mimpi didatangi ular besar hitam keemasan yang tiba-tiba saja berubah wujud menjadi laki-laki yang sangat tampan. “Teman-temanmu harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka yang telah membunuh, menguliti, membakar, lalu memakan daging istriku, aarrrgghhh…” kata siluman ular, membuat tubuh Sarwanti menggigil hebat. “Kamu tidak kubunuh, tapi aku mengutukmu selama 10 tahun. Dan pada malam-malam tertentu kamu harus mau menggantikan tugas istriku selama sepuluh tahun tersebut, ssssssshhhttttttt…..” tambahnya dengan mendesis. Rupanya lelaki itu adalah suami dari Siluman Ular hutan Jati Kramangan. Sarwanti tertegun, diam dan lemas. Dan, mimpi itu sungguh menjadi kenyataan. Selama 10 tahun, disetiap tahunnya, persisnya selama 10 hari di bulan yang sama dengan bulan ketika Sarwanti dan teman-temannya tersesat di hutan Jati Kramangan, maka kulit gadis ayu tersebut mendadak bersisik seperti kulit ular. Kadang-kadang Sarwanti juga mendesis-desis seperti seekor ular. Jadi, kurang 10 hari pasti Sarwanti mengurung diri di dalam rumahnya. Kalau pun terpaksa keluar hanya bisa pada malam hari saja, siangnya Sarwanti selalu mengompres tubuhnya dengan bongkahan es batu, karena suhu tubuh yang berubah sangat panas. Tak diduga sebelumnya, perubahan pada kulit tubuh Sarwanti pada bulan-bulan tertentu di setiap tahunnya ternyata malah malah membawa hoki bagi diri Sarwanti, terutama dalam hal keuangan. Setamat SMA sambil menjalani kuliah Sarwanti diterima bekerja di sebuah lembaga bahasa asing yang ternama di Bandar Lampung. Waktu senggang bisa ia gunakan untuk berbisnis kosmetika juga mengkriditkan pakaian untuk teman-teman sekampus ataupun ibu-ibu dan remaja puteri di lingkungannya. Sepertinya bisnis apapun yang ia lakukan berjalan mulus dengan kemajuan yang cukup pesat. Setamat dari STKIP Sarwanti bersama Junia, temannya, mendirikan sebuah lembaga Bahasa Inggris, di mana Sarwanti menjabat sebagai direkturnya. Sarwanti juga mengadakan kerjasama dengan beberapa PJTKI dalam memberikan les bahasa Inggris. Lambat laun usaha Sarwanti berkembang kian pesat, bahkan telah mampu membuka cabang di luar kota. Dalam jangka waktu sekitar 4 tahun Sarwanti sudah mampu memiliki rumah sendiri, mobil dan juga perabot rumah yang semuanya serba lux. Di usia 30 tahun, Sarwanti sudah memiliki segalanya dan dipandang sebagai gadis kaya untuk ukuran seorang gadis di desanya. Dan tak terasa, rupanya 10 tahun Sarwanti telah menjadi isteri (gaib) siluman ular hutan Jati Kramangan. Cuma yang menjadi problem bagi diri Sarwanti, jika ada lelaki yang naksir dan hendak menikahinya atau menjadikan Sarwanti isterinya, maka lelaki itu selalu mati sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Terhitung sudah ada lima orang lelaki semenjak tamat SMA, kuliah hingga memiliki usaha sendiri. Rasanya Sarwanti sudah lelah untuk berkeinginan menikah. Awal tahun 2013 yang lalu kutukan itu telah selesai ia jalani. Kulit Sarwanti tidak lagi bersisik dan gadis yang memiliki keindahan ragawi nan memikat itu bisa leluasa keluar pada siang hari tanpa takut kulitnya terasa panas hendak melepuh seperti sebelumnya. Bukan itu saja, Sarwanti juga tidak akan lagi mendesis-desis seperti layaknya seekor ular. Sarwanti menjadi yakin bahwa kutukan itu telah berakhir dan benar-benar hanya 10 tahun yang harus ia jalani sesuai ucapan siluman ular hutan Jati Kramangan itu. Akhir tahun 2013 yang silam Sarwati telah menjalin hubungan serius dengan Robert McCarty, seorang pengusaha garmen asal Jerman yang telah dua tahun tinggal di Bali. Dia sangat mengagumi keindahan Indonesia, terutama Bali. Perkenalan dengan lelaki handsome asal Jerman itu terjadi karena Sarwanti sering ke Bali dalam rangka ujian Practice Conversation untuk anak-anak diri Sarwanti. Sarwanti selalu berdoa, kalau memang lelaki itu adalah jodohnya, Tuhan pasti akan menyatukan cinta mereka. Tapi jika lelaki bule itu akan bernasib malang, yaitu meninggal seperti lima orang laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya, mungkin ini adalah bagian takdir yang harus Sarwanti jalani. Namun, gadis cantik ini berusaha yakin bahwa kini ia sudah terbebas dari kutukan siluman ular hutan Jati Kramangan tersebut. Kini semuanya ia pasrahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. (Demi menjaga nama baik, semua nama pelaku dalam kisah diatas telah disamarkan, kecuali nama tempat. Abdul Wahab mengirimkan tulisan ini hanya kepada Majalah Misteri) sumber:

Rabu, 11 Februari 2015

Diikuti Hantu Wanita Hingga Nabrak Kucing

malam yang panas diruang kerja yang banyak tumpukan lembaran dokumen yang mesti di rehap untuk segera diterbitkan, setiap judul-judul cerita yang kulihat dan kubaca isinya ternyata semua sama saja yang beda hanyalah sebuah judul, 

dan sedikit kata yang dirubah, sunggu mirisnya kehidupan didunia fana ini, sampai-sampai mengirim dokumen hanya judunya saja yang diubah

nafas panjang yang kuhembuskan seakan mewakili keadaan ku kalau saat itu aku merasakan letih dan lelah, namun ini lah resiko seorang editor, kembali kuperhatikan dokumen-dokumen yang telah kubaca, ternyata ada juga yang menarik, 

setiap copy tulisan yang dibuat ternyata tak satu pun yang mencamtumkan sebuah sumber, yah sepertinya mereka ingin tenar dengat cepat, sampai-sampai meraka tak menyadari kalau cerita yang mereka buat telah diterbitkan terlebih dahulu oleh media online seperti kisah-misteri.info atau group facebook nya dan masih banyak lagi

lantaran beban dan banyaknya pikiran yang ada dibenaku akupun memutuskan untuk membuat segelas kopi didapur kantor, segelas kopi pun telah terbuat namun kejangalan mulai terasa dibenaku, ternyata rokok di meja kerja sudah habis, akupun memutuskan untuk pergi keluar memberi sebungkus rokok dan juga beberapa roti untuk menemani minum kopi ku

angin yang berhembus begitu dingin, warung yang berada tak jauh dari kantor ku pun kini sudah hampir tutup,lantara aku sudah kenal akbrab maka aku dilayani dengan sepenuh hati, setibanya dimeja kerja ku kopi yang tadinya panas kini mulai sedikit dingin, ketika asik-asiknya menikmati segelas kopi dan 3 buah potong roti, lampu di ruang kerja ku mati mendadak, dan seluruh ruangan sangat gelap


isak tangin yang terdengar dari luar jendela ruang kerja ku seakan membuat merinding, tanpa pikir panjang kaupun segera mengecek apa yang ada diluar sana, ternyata hanya gelap malam dan juga hembusan yang angin yang saat itu aku rasa dan lihat, tak lama dari itu lampu kembali hidup, sebatang rokok yang mulai kuhisap dengan perlahan-lahan tampak begitu nikmatnya melewati malam yang penuh dengan kerjaan

sejam telah berlalu dan jarum jam yang terlihat di kini telah mengarah ke angka 03.03, rasa kantuk mulai menyelimuti ku, segera ku beranjak dari kursi dan menuju kamar mandi kantor untuk menbasuh wajah ku dengan air, saat berkaca di kamar mandi, 

tampak telihat sosok bayangan putih yang bergerak begitu cepat, gerak reflek melihat kebelakang pun tak kusadari, ternyata hanya ilusi ku saja, namun saat kembali untuk berkaca, tepat di depan wajah ku tampak terlihat kepala wanita cantik dengan mulutnya yang lebar serta bola mata yang dikelilingi darah segar dan juga rambut lurus yang terurai sangat panjang

"wajah mu mengalihkan dunia ku", sebuah kata yang bisa diisyaratkan untuk saat itu, dan bodohnya aku kenapa hanya berdiam diri dihadapannya, kurang lebih 5 menit kami saling pandang akhirnya dia menghilang juga dari pandangan ku, sepeninggalannya aku yang mulai bernafas tak beraturan dan juga jantung yang berdetak lebih kencang, membuat aku tak dapat berfikir dengan tenang

semua peralatan serta dokumen-dokumen yang ada dimeja kerja ku segera kurapikan dan pulang kerumah secapat mungkin, sepeda motor pun kupacu dengan cepat, disaat melintasi perempatan, sosok wanita melintas ditengah-tengah jalan, rem cakram yang ku tekan ternyata membuat sepeda motorku tak bisa dikendalikan sehingga aku menabrak wanita itu, dan akupun terjatuh

namun disaat kulihat ke jalanan, ternyata hanya kesunyian malam yang tampak saat itu, sepeda motorpun kembali kuhidupkan dan kupacu dengan cepat, namun kali ini seekor kucing tengan melintas di jalanan, namun saat ku tabrak, kucing itu terpental dalam jarak yang begitu jauh, suara tawa tampak terdengar samar-samar ditelinga ku

kucingpun segera aku bungkus mengunakan baju kerja ku, darah segar yang menetes dari seekor kucing yang telah kutabrak tampak terlihat di jalan yang telah aku lewati, setiba dirumah akupun segera mengubur kucing yang malang itu, 

setelah semua usai akupun kekamar mandi untuk membersikan tangan dan juga mengusap wajah ku, saat keluar dari kamar mandi, tampak terdengar secara samar-samar suara orang yang menmanggil namaku, dan suara itu terdengar begitu halus, 

seribu tanya menghantui diriku, suara siapa kah itu, dirumah ku tak ada seorangpun selain diriku, dalam suasan yang sedikit aneh akupun mempercepat langka kaki ku untuk segera sampai ke kamar tidur ku, setibanya dikamar, akupun memutuskan untuk segara tidur disaat kumatikan lampu kamar, tampak terlihat samar-samar seorang gadis dengan postur tubuh yang aduhay, 


namun mulutnya yang lebar serta darah yang berawrna merah kehitaman tampak begitu jelas saat keadaan gelap, detak jantung yang begitu cepat serta nafas yang terbatah-batah dan juga rasa gemetar disukujur tubuh ku, membuat pandang ku berkunang-kunang hinga ku tak sadarkan diri.

Teror Telepon dari Alam Lain (Teror Telepon Misterius)


Aku teringat suatu kisah saat aku kerja di perusahaan mebel Korea. Perusahaan itu memiliki 5 administrasi staff perempuan, dan 2 laki-laki staff bagian umum . Kantor administrasi ada di lantai 2, membentuk huruf L. Menyatu dengan ruang Direktur Utama. Setiap hari karyawan pabrik pulang jam 16.00 (kecuali bila ada lembur). Dan kami seluruh administrasi dan bagian umum harus pulang jam 16.30. Seperti hari-hari biasa, kami para administrasi staff membereskan berkas-berkas kerja kami sebelum pulang ke rumah masing-masing. Sambil bercengkrama untuk melepas penat, kami berkumpul sebentar di meja kerjaku yang berada di ujung ruangan. Di sela-sela pembicaraan kami, tiba-tiba teleponku berbunyi. Kami semua melihat lampu nomer 7 menyala, pertanda extention phone nomer 7 yang berada di meja ibu Ria melakukan panggilan ke extention phoneku. Padahal hari itu ibu Ria tidak masuk kerja. Kami semua saling berpandangan dan serempak menoleh ke meja ibu Ria yang kosong. Meja ibu Ria berada di sisi ujung yang lain. Aku memberanikan diri untuk menjawab telepon misterius itu melalui speaker phone agar semua dapat mendengarnya. "Halo.." sapaku memulai dari speaker phone. Awalnya kami hanya mendengar suara yang sangat sunyi dari seberang sana. Tak henti-hentinya mata Jeni dan Santi (rekan kerjaku) memandang meja Ibu Ria sambil menyimak suara dari telepon itu. Entah sudah berapa lama kami hanya mendengar suara sunyi, sampai akhirnya sayup-sayup kami mendengar suara seorang wanita dari seberang sana "Hhh..hhaaallooo..." suara yang lirih namun mampu membuat kami semua bergidik ketakutan. Kaki kami seolah terpaku kuat di lantai yang kami pijak. Dengan sisa keberanian aku bertanya "maaf, ini siapa?". Lalu suara di seberang sana menjawab "Niken." Dan setelah itu sambungan telepon terputus. Tanpa dikomando, kami semua langsung lari ketakutan. Keesokan harinya, rasa penasaran membuatku mencari data administrasi staff dan karyawan pabrik yang ada di gudang personalia (aku bekerja sebagai staff personalia, jadi aku dapat leluasa untuk masuk ke dalam gudang database staff). Aku sangat ingin tau apakah memang ada staff atau karyawan yang bernama Niken pernah bekerja disini. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Nama Niken memang pernah bekerja sebagai staff gudang beberapa bulan sebelum aku masuk bekerja di pabrik itu. Niken adalah seorang gadis yang manis dengan rambut ikal sebahu dan pita rambut menghias kepalanya. Namun aku masih penasaran, kenapa telepon misterius itu sempat menyebut nama Niken. Dan ibarat pepatah "rasa penasaran dapat membunuh kucing", begitu pula rasa penasaranku mampu membunuh rasa takut seolah aku sudah lupa ketegangan yang ditimbulkan telepon misterius itu kemarin. Aku mengamit tangan ibu Ria, seniorku di kantor. Ibu Ria sudah bekerja di pabrik itu 2 tahun sebelum aku masuk ke pabrik. Aku yakin beliau pasti mengetahui tentang Niken. Setengah berbisik aku bertanya kepadanya, "ibu pernah kenal staff bernama Niken gak?". "Astaga!! hari ini sudah ada 2 orang yang bertanya tentang Niken. emang ada apa sih?" tanya ibu Ria agak jengkel. Karena merasa tidak enak hati, akhirnya aku menceritakan tentang telepon misterius itu. Ibu Ria tersenyum memandangku dan menjelaskan bahwa dulu memang ada staff gudang bernama Niken. Dia merupakan staff yang tekun dan rajin. Suatu pagi, Niken mengalami kecelakaan saat menuju ke pabrik dan meninggal di tempat kejadian. Setelah peristiwa naas itu banyak kejadian diluar nalar dialami beberapa staff. Extention phone nomer 7 yang semula memang berada di dalam gudang sering melakukan panggilan ke extention phone staff lain dengan sendirinya. Dan hanya kesunyian yang terdengar bila telepon itu dijawab. Padahal lokasi gudang berada dalam satu gedung dengan pabrik. Seharusnya terdengar kegiatan dalam pabrik apabila telepon gudang digunakan. Di lain waktu, beberapa karyawan pabrik sempat melihat penampakan sosok perempuan muda yang mirip dengan Niken berjalan mondar-mandir di dalam gudang. Bahkan staff gudang pengganti bercerita bahwa sering kali saat dia kembali dari istirahat makan siang, dia menemukan bekas bungkus nasi dan air mineral dengan noda lipstik di bibir botol. Padahal staff gudang pengganti saat itu adalah lelaki (dan tidak mungkin dia menggunakan lipstik!). Aku hanya termangu mendengar hal itu semua. Dua hari menjelang payday biasanya aku lembur untuk menghitung lembur dan membuat laporan. Biasanya aku lembur ditemani bagian keuangan. Tapi hari itu staff keuangan harus ijin setengah hari karena ada keperluan mendadak. Dan sialnya bos-ku kedatangan tamu di hari yang sama. Mau tidak mau aku harus menyelesaikan laporan gaji sendirian. Aku menghirup kopi yang barusan kubuat tanpa mengalihkan mataku dari komputer. Entah kenapa laporan yang kubuat selalu salah perhitungan. Baru saja aku akan meraih mouse komputer, tiba-tiba teleponku berdering. Mataku terpaku pada lampu extention phone nomer 7. Oh..Jangan lagi!! Please, Jangan sekarang!! Pikirku panik. Namun semakin aku ingin lari, semakin tubuhku terasa kaku tak dapat digerakkan. Aku melirik ke meja Ibu Ria yang kosong. Samar-samar kulihat seperti bayangan gadis dengan rambut ikal sebahu dan pita rambut di kepalanya yang tertunduk membelakangiku. "Haruskah kuangkat? Atau aku lari saja dan membiarkan mejaku berantakan?". Semakin aku berpikir untuk lari, semakin keras bunyi dering telepon itu seolah ditempelkan ke telingaku. Aku harus angkat!! Harus!! "Halo.." jawabku dengan suara bergetar. Mataku masih memandang bayangan di ujung ruangan itu. Kembali hanya kesunyian yang kudapat. "haloooo.." sapaku lagi. Tiba-tiba aku mendengar bunyi "KREK!!" bersamaan dengan digerakkannya leher perempuan berambut ikal itu. Seperti leher yang patah dia menggerakkan kepalanya berputar menghadapku tanpa membalikkan tubuhnya. Sungguh aku sudah mati rasa menyaksikan itu semua. Kupandang raut wajah kesedihan disana. Itu memang Niken! Aku masih mengenali wajah itu walaupun ada bercak darah mengering dimana-mana. Dia menggerakkan mulutnya dan secara ajaib kudengar suara yang sama seperti tempo hari menjawab dari extention phone nomer 7, "Hallooo.." jawabnya. "Ya." kataku seperti kehilangan kata-kata. "Saya ingin minta maaf kepada bos karena saya belum sempat berpamitan. Saya tidak ingin dianggap mangkir dari pekerjaan. Bisakah saya meminta tolong mbak untuk menyampaikan?" kata suara itu memohon. Aku terdiam beberapa saat. Benar-benar staff yang rajin dan tekun. Bahkan disaat meninggalpun dia masih memikirkan pekerjaan dan tanggung jawabnya kepada atasan. "Akan saya sampaikan. Sekarang kamu dapat beristirahat dengan tenang. Saya percaya bos akan memakluminya." jawabku pada akhirnya. Kulihat bayangan itu tersenyum samar dan bibirnya bergerak mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menghilang seperti asap. Aku termangu dan tidak dapat meneruskan laporanku hari itu. Kuputuskan untuk segera pulang setelah membereskan berkas dan mematikan semua lampu ruangan staff. Aku tidak tau apakah sampai saat ini masih ada telepon misterius dari extention phone nomer 7. Namun sejak kejadian itu, keadaan gudang sudah tidak seangker sebelumnya. Dan aku tidak pernah lagi menerima telepon misterius dari extention phone nomer 7. sumber : http://www.kisah-misteri.info/kisah-misteri-664-cerita-mistis--teror-telepon-misterius.jsp

Kisah Pramugari dan Kakek

Kisah Pramugari dan Kakek Tua
Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airlines.
Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang
mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 17 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap
pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Di antara penumpang, saya melihat seorang kakek dari desa merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali
gaya desanya.
Pada saat itu saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang.
Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju,
seorang dari desa sudah mempunyai uang
untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum.
Ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut.
Dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum apa, tetapi dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak.
Kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya.
Lalu kami membiarkan duduk dengan tenang.
Menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tenang di tempat duduknya.
Kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit.
Dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak
sembarang, takut merusak barang di dalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar
dia ke toilet.
Pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang sebelahnya dan menelan ludah.
Dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia.
Ternyata gerakan kami mengejutkannya.
Dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah..
Kami mengatakan engkau sudah haus minumlah.
Pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami.
Kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis.
Dia tidak percaya.
Katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir
jalan.
Dia tidak diladeni malah diusir.
Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati
bandara baru naik mobil.
Karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan
itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan
makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan
yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking.
Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang
tua tersebut tidak biasa tinggal di kota akhirnya pindah kembali ke desa.
Sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking.
Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan
menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking.
Tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal.
Dia bersikeras dapat pergi sendiri.
Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan
keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri.
Katanya jika ditaruh di tempat bagasi, ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah
hancur.
Akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan
hati – hati dia meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih
yang tulus.
Tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar.
Saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil, dan meminta
saya meletakkan makanannya di kantong tersebut.
Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak.
Dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya.
Kami semua kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, di mata seorang desa menjadi begitu berharga.
Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang
masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan
kepada kakek tersebut.
Tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan, tidak
menghendaki yang bukan miliknya sendiri.
Perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun
dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat.
Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya
lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan
bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai.
Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu
enak.
Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana
mengucap terima kasih kepada kalian.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya.
Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar
dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – ragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah,
yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami.
Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan.
Hanya menyajikan minuman dan makanan.
Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil
merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan
tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.
Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.
---------------------------------------------------------
Janganlah kita memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri
apa yang kita dapat.
sumber: https://www.facebook.com/kcmmbs/posts/628759677225261

Rumah Sakit Serem

Ini pas gue berkunjung berkunjung ke salah satu rumah pemerintah di daerah jakarta timur. Waktu itu yg dirawat ayah gue, abis operasi usus buntu. Saat itu tepatnya kamis malam jam 8 gue tiba di rs sama keluarga aa ibu, kakak, om, tante, dan sepupu gue. Kami sekeluarga langsung ke bagian bedah thoraks tempat dimana ayah gue dirawat yg ada lantai dua rumah sakit ini. Rumah sakit ini memiliki tiga lantai.


Terlihat beberapa orang yg lain berjaga di dekat pasien lain. Ayah gue hari ini dijaga sama tetangga yg kebetulan sahabat ayah gue. Kami berbincang2 juga dengan pasien sebelah ayah gue yg sakit jantung. Katanya sih udah lama dirawat disini. Tiba2 gue kebelet buang air. Gue mutusin buat kekamar mandi yg ga jauh dari ruang inap ayah gue. Wooo... sepi banget, ga ada orang sama sekali.
Tapi bodo lah dari pada gue tahan pikir gue dalam hati.

Gue masukin salah satu bilik kamar mandi. Disini ada 5 bilik gue ada di nmr dua dari pintu keluar. Sesaat kemudian gue denger ada yg masuk sepertinya sih di bilik sebelah gue. Akhirnya ada orang disebelah ucap gue dalam hati. Saat gue udah selesai dan mau buka pintu.Gue denger yg diswbelah gue itu nangis ngerintih sakit. Gue saat itu coba gak berpikiran negative gue coba positif thingking. Ah mungkin aja itu slah satu pasien, gawat gue harus nolong! Pikir gue. Dengan segera gue keluar dari bilik dan menggedor bilik di nmr 3 yg tertutup.


Gue gedor2 sambil berkata "mba! Mba! Mbak kenapa? Jawab saya mba" tapi gue hanya mendengar suara rintihan sakit aja. "Sakit! Sakit... tolong saya tolong sakit.." gue mencoba menolong tapi pintu gak bisa dibuka. Tiba2 ada ob masuk gue minta dia coba bukain pintunya karena ada pasein didalam yg lagi kesakitan. "Mas. Tolong saya mas tolong bukain pintu ini, didalem ada org yg ngerintih kesakitan! Saya ga bisa buka karena dikunci rapat, cepet mas tolong!!" "Baik mba"

Sang ob pun mendobrak pintu itu, dan dengan mudahnya terbuka! Betapa terkejutnya aku ketika melihat didalam ternyata tidak ada siapapun! "Mba mana? Katanya dikunci saya dobrak gampang banget kebuka, didalam juga gak ada orang" tutur ob tersebut. Gue gak bisa ngomong apa2 karena gue juga sama terkejutnya. Akhirnya gue mutusin balik ke kamar ayah gue. Ternyata ibu sama yg lain lagi pada keluar untuk cari makan sama tebus obat di apotek. Ahh gue sendirian! Ayah tidur lagi.

Pasien diruangan ini cuma dua yaaitu ayah gue dan pasien satunya lagi. Tapi dua2nya lagi pada tidur dan gue sendiri. Akhirnya gue putusin buat kekantin yg ada dilantai satu. Gue nengok jam dan udah jam setengah sembilan malam. Hmmm saat itu gue lagi bingung mau kemana. Gue lagi malas turun
lewat tangga akhirnya gue iseng mutusin pake lift aja hehe padahal cuma kelantai satu. Pas gue turun loby rs udah pada sepi. Gue jalan kearah kantin yg biasanya gue beli minuman. Dan ah sial tutup lagi! Akhirnya gue putusin balik, tapi anehnya swwaktu gue balik lampu2 dilorong rs mati. Ahhhh gue takut setengah mati. Mana sepi lagi! Pikir gue. Mau gak mau gue harus ngelewatin lorong yg gelap itu. Tiba2 ada satpam yg negor gue.

"Dek mau kemana? Jalan sendirian, gak takut?"
"Nggak pak tadi saya abis kekantin mau beli minuman tapi ttup" Gue ngeliatin tuh satpam dari ujung kepala sampai kaki, napak! Alhamdulillah.
"Oh ada lagi kantinnya kok kamu lurus saja ketemu lift belok kiri ada pertigaan belok kanan"
"Iya pak makasih ya" ujar gue buru2 karena saking hausnya pas sampe pertigaan yg disebutin satpam tadi gue sampe lupa harus belok mana kanan/kiri.
Lagi bingung2nya ketemu lah sama satpam lagi kali ini satpam yg lain. Dia liat gue kebingungan akhirnya dia samperin gue. "Dek, mau kemana malam2 begini?" Tanya satpamnya.
"Oh nggak pak saya mau kekantin." Jawab gue.
"Kantin adanya disana dek bukan disini" jelas sisatpam sambil menunjuk arah kantin yg gue tuju tadi.
"Nggak pak, tadi saya dikasih tau sama satpam katanya ada juga disebelah sini"
"Satpam?" Raut wajah si satpam itu kemudian berubah menjadi bingung.
"Iya pak."
"Maaf dek, tapi satpam jaga malam ini saya doang. Gak ada lagi"

Mendengar penuturan satpam itu sontak bikin kaki gue lemes. Akhirnya gue buru2 pergi dari tempat itu dan balik ke kamar ayah gue dirawat. Karena saking lemesnya gue mutusin buat naik lift lagi. Kemudian gue memencet tombol lantai 2. Lift berjalan, terjadi keanehan saat udah dilantai 2 liftnya gak berhenti! Malahan naik keatas dan berhenti dilantai 3 yg merupakan kamar khusus persalinan. Gue pikir ada yg mau naik. Tapi saat pintu terbuka ga ada siapapun! Gue makin lemes, saat itu gue buru2 tutup pintu lift dan menekan tombol 2. Saat itu juga lift berjalan. Tapi keanehan muncul lagi saat lift ada di lantai dua liftnya gak berhenti malah turun kelantai satu. Gue panik banget waktu itu! Saat pintu lift terbuka benar saja tak ada siapa2 saat itu juga gue mutusin buat keluar lift dan lari menaiki tangga kelantai dua! Setibanya gue dilantai dua bersamaan saat itu juga lift pun berhenti dilantai 2 dan terbuka tanpa ada siapapun didalamnya! Gue yg ketakutan langsung lari. Sampai dikamar ayah gue, ibu dan yg lainnya udh pada sampai. Malah siap2 untuk pulang. Ibu gue menghampiri gue "win kamu mau pulang atau jaga disini bareng om anto?" "Pulang aja mah" jawab gue dengan nada lemas. Setelah apa yg gue lewatin tadi gak akan mau gue nginap disini! Ibu gue bertanya " kamu kenapa? Ko kelihatannya ketakutan, pucet lagi kamu sakit ya? Yaudah kita pulang aja ya" Gue gak bisa berkata apapun saat itu.
Setelah kejadian itu percayakah kalian, gue jatuh sakit selama seminggu dan harus diopname, rumah sakit rujukannya tentu rumah sakit yg kemarin ayah gue dirawat. Tapi gue kekeh gak mau, dan akhirnya gue dirawat dirumah. Sampai sekarang gue masih suka takut kalo berkunjung ke rumah sakit apalagi kunjungan malam!